Siaran Pers TIM Verifikasi Independen
Kematian David
Iklan Tanpa Empati: Model Teman Sekelas David di SMU
Pada 5 Desember 2009 lalu di Kompas tampil iklan Nanyang
Technological University (NTU), Singapura dengan naskah iklan:
“Saya sangat senang belajar di NTU. NTU
adalah tempat yang saya impikan untuk melanjutkan studi saya. Di
NTU, saya dibangun untuk menjadi orang yang
berkompeten secara internasional. Profesor-profesor sangat membantu
murid-muridnya dalam belajar, dan orang-orang di NTU sangat baik dan bersahabat, saya mempunyai banyak
teman di sini dari berbagai negara. Ada banyak kegiatan
ekstrakurikuler yang dapat saya ikuti di NTU.
NTU merupakan tempat yang sangat baik untuk belajar, dengan
taman-taman di sekitar sekolah, dan tentu saja hall tempat tinggal
para siswa yang menyenangkan dan kolam renangnya yang nyaman.
NTU adalah universiti yang bagus untuk
memulai kehidupan masa depanku yang menarik.”
Kalimat ini diucapkan seorang mahasiswi kawan David di
NTU, juga kawan sekolahnya di SMU dulu, dalam tampilan foto bersama keluarganya.
Iklan tersebut telah melukai hati keluarga David mendalam.
Kami dari TIM Verifikasi Independen sangat
menyayangkan sosok anak Indonesia, apalagi sosok yang kenal dengan
almarhum dan keluarga David, mengingat:
Laptop David hingga kini belum dikembalikan juga oleh polisi
Singapura, kendati sidang koroner sudah selsai dan pengadilan sudah
meminta polisi melakukan pengembalian. Pasalnya, keluarga David
bersama ahli forensic digital meminta digital konten yang
mengatakan David membuat surat bunuh diri dan tiga kali mengunjungi
situs berkait bunuh diri. Hingga kini data yang diduga alibi ini
adalah karangan polisi Singapura. Ini menjadi hambatan laptop David
tak berujung pulang.
Rekaman video 8 detik yang diulang-ulang, saat David akan bunuh
diri, juga diminta serahkan pengadilan ke keluarga David, hingga
kini, polisi tidak juga melakukannya. hashing data barang bukti itu
tiada.
Atas dasar dua hal tersebut di atas, juga keterangan ahli dan
pakar Indonesia yang menyebutkan indikasi tajam David Hartanto
Wijaya dibunuh, maka iklan memakai model anak Indonesia kawan David
sendiri itu, kami sampaikan sebagai: laku tidak ber-empati.
Agaknya tidak ada hukum yang dilanggar di
iklan tersebut
, termasuk Kompas, sah menerima
pembayaran. Akan tetapi jika rasa
kesetiakawanan masih ada di lubuk hati,
plus pula fakta media Singapura yang represif
dalam membangun opini di kasus David,
model iklan dan harian Kompas:
kami kecam dan sayangkan.
Demikian siaran pers ini kami buat. Agar menjadi catatan sejarah
dari perjalanan kasus indikasi tajam dibunuhnya David.
Jakarta, 11 Desember 2009
It’s useless to put a facade and trying to save face….everybody
by now knows how singapura is run by a tyrant.